Langsung ke konten utama

Belilah, Meski Kau Tak Membutuhkan




Kawan, kapan terakhir kali kau pegang koran karena membutuhkan informasi yang ada di dalamnya? Kapan terakhir kali kau membeli koran karena peduli dengan sesama? Tak dipungkiri kecepatan dan kemudahan mengakses informasi yang ada dalam genggaman kadang membuat kita lupa pada sisi kemanusiaan. Siapa peduli dengan cara lama yang kini mulai ditinggalkan. Nyatanya setiap detik informasi yang kita inginkan bisa kita akses dengan mudahnya. Ingin kutanyakan, berapa persen dari kita yang peduli dengan membuka lembaran demi lembaran ? Bukankah kemudahan telah ada dalam genggaman?


Kawan, ini bukan tentang lembaran demi lembaran koran maupun isi berita yang ada di dalamnya tapi tentang nurani kita yang bicara. Belilah meski kau tak membutuhkannya, nyatanya ia bukan pengemis jalanan. Masih mencari rejeki halal dan rela berpanas-panasan dibawah terik matahari dan asap jalanan, kemana nurani? Ia begitu kecil dan legam bahkan berdiripun tak mampu lagi ia lakukan, kemanakah hati?


Sungguh akupun sebenarnya demikian, lembar demi lembar kadang tak habis kubaca – informasi yang ingin kudapatkan setiap detik bisa ku ejakan. Tapi bisakah aku - juga peduli pada mereka yang ada dijalanan?


Belilah meski kau tak membutuhkan. Rejekimu tak akan berkurang dalam jalan kebaikan, bila kau mampu - berikan lebih bagi mereka yang mau berusaha demi mendapatkan sesuap nasi. Bicara tentang sesuap nasi mungkin kau juga belum makan hari ini karena retetan jadwal dan padatnya acara membuatmu tak sempat menyentuh makanan. Tapi coba bayangkan mereka yang tak sama, waktu mereka penuh perjuangan demi mengisi kekosongan. Dari pagi hingga pagi lagi rupiah demi rupiah dikumpulkan demi menyambung kehidupan. Semoga kau dan aku akan mampu untuk lebih menghargai kehidupan dan kesyukuran bahwa sebenarnya Tuhan selalu ada memeluk kita dalam cinta-Nya. Ahhh yaaa..

.
Jadi kawan, mau koran? : )

Komentar

  1. Iya mau... next time kalo lewat lampu merah tak sempetin beli. hihihi :D
    Luar byasaahh

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Routine

Apakah rutinitas adalah hal yang patut untuk di kutuki dan dicaci-maki oleh banyak orang?  Beberapa orang menganggap bahwa rutinitas adalah hal yang membosankan, tidak seru. Iya, kurang lebih memang begitu. Mengerjakan hal yang sama berulang-ulang, tidak menantang. Tapi, apakah benar-benar begitu?  Bagi beberapa yang percaya bahwa, pada setiap hari yang baru akan ada perjalanan yang baru pula untuk dinikmati dan dihargai. Rutinitas bukanlah sebuah masalah. Bahkan setiap orang yang sama yang kita temui setiap hari, sebenarnya juga telah berubah. Suasana hatinya, pakaiannya, ekspresinya, tidak semuanya, beberapa saja, tapi bukankah perubahan juga merupakan suasana yang baru? Ya, meskipun perubahan tak dapat terlihat satu dua kali. Dalam bentuk grafis-pun perubahan sedikit demi sedikit tak akan terlihat. Setelah satu dua bulan - satu dua tahun barulah perubahan yang signifikan dapat dinilai.  Balik lagi ke 'routine'. Bagiku rutinitas juga merupakan sebuah pengua...

Berkunjung

Namanya juga berkunjung, hal yang kulakukan berkala, kala rindu dan kala ingin datang.  Tempat ini adalah salah satu tempat yang kita sepakati bersama selang beberapa hari kita berkenalan, ternyata kau juga suka menyepi disana dengan maupun tanpa kawan. Hey, aku juga suka, lalu kita sepakati jika kita akan sering-sering berkunjung kesana. Selang waktu berlalu dan seiring perubahan yang terjadi padanya, aku masih suka berkunjung kemari, dengan kawan maupun sendirian, sekedar melepas panat dan melihat keramaian. Aku masih suka kemari, bangku-bangku ini menjadi saksi pada sudut padang kenanganku dan kenanganmu. Aku masih ingat, di ujung sana pertama kalinya kita mencocokan karya yang paling kita suka, lalu di ujung sebelah sana dekat pintu keluar, adalah kenanganku sendiri akan sebuah pesan yang kau sematkan. Aku masih suka berkunjung kemari, sekedar menghirup aroma teh hijau atau memesan coklat panas. Sambil memeperhatikan orang-orang yang lalu lalang, ku abadikan send...

Cerita Perempuan 2

Mungkin nanti aku yang akan tersenyum sekaligus menangis melepaskan kepergianmu. Bukankah kehidupan memang begitu? 'people come and go in our life' tapi hanya akan ada beberapa yang membekas dan meninggalkan jejak berarti dalam hidupmu. Entah itu manis, pahit, bahagia, canda, tawa bahkan tangis. Mungkin nanti aku yang akan paling menunggu saat pintu kamarku terbuka lebar tapi kau tak datang untuk berbagi cerita, buku yang kau baca - buku yang kubaca. Lalu kita tertawa menertawakan kebodohan kita atas 'judging people by appearance' padahal kita saling tau jika, kita pun tak sempurna. Diskusi dari buku sampai ke batu kita bahas sampai habis. Kita pikir tak ada orang sehina ini diluar sana untuk menertawakan kebodohan kita sendiri. Menertawan mimpi kita untuk terwujud - tidak terwujud. Menyalahkan diri sendiri jika kita tak bergerak untuk melakukan sesuatu. Mungkin nanti tak akan ada bunga yang bisa aku pinjam lagi, tak ada lukisan yang akan ku cerca lagi, tak ada...