Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2015

Cerita Perempuan

Jadi malam ini kita sama-sama setuju bahwa suasana Yogyakarta begitu syahdu, sepertinya kita juga saling mendukung jika setiap malam seharusnya menjadi seperti malam ini. Ketika lampu-lampu jalan sekitar Gajah Mada menjadi tamaram, tidak menyilaukan dan kendaraan tidak begitu banyak melintas. Lalu kita setuju jika lampu yang begitu terang di jalan ditambah baleho besar papan iklan mampu membuat pikiran kita lupa bahwa ini malam yang seharusnya kita nikmati sebagai istirahat yang menenangkan. Perjalanan kami lanjutkan, dengan keadaan yang memaksa kami sebagai mahasiswi yang merasa memiliki argumentasi kami saling berbagi cerita dan pengalaman juga sudut pandang. Dari mulai pendidikan, kehidupan hingga pelajaran dengan tema 'cara menjadi ibu yang baik' nanti. Bagi kami argumentasi diatas euforia malam menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Argumentasi diatas jumawa diri, tak ingin didengar dengan pasti namun kami ingin memberi arti bahwa yang sedang kami bicarakan begitu ber...

Pukul Tuju

Detik berdenting berdetak detik menuju pukul tuju,  suara gemuruh hujan masih sama masih terdengar merdu di telingaku jauh lebih merdu dari yang pernah aku dengar sebelumnya. Lama kuperhatikan hingga menjadi, suara yang bergemuruh sampai riuh. Ini fatamorgana atau realita hingga aku tak mampu mengingat waktu pada yang nyata. Mungkin ini aku yang mencoba untuk mengingat arah utara dan selatan, meminta pertemuan pada penghujung jalan. Rasanya seperti ada kupu-kupu merah dan kuning dalam perutku membuatku semakin geli bahwa yang kuinginkan-pun akan hanyut terbawa derasnya air hujan.

Apa yang Salah dengan Volunteer?

Oleh: BUTET MANURUNG PENDIRI DAN DIREKTUR SOKOLA-LITERASI DAN ADVOKASI UNTUK MASYARAKAT ADAT INDONESIA‎ ‎ ”Kamu perempuan, lahir dan besar di Jakarta, sekolah tinggi, kenapa mau bekerja keluar-masuk hutan hanya untuk orang-orang seperti mereka?” Begitu pertanyaan yang sering saya dapatkan selama tak kurang dari 15 tahun terakhir ini. Tidak ada jawaban yang memuaskan mereka. Setiap jawaban malah melahirkan pertanyaan baru. ”Memangnya di kota tidak bisa berarti?” ”Di hutan, kan, tidak ada mal, sinyal telepon, teve, internet, bakso?” Atau, ”Hobi, ya, hobi, pekerjaan itu pekerjaan, tidak bisa disatukan!” Lalu, ”Tidak takut binatang buas, kena malaria, diperkosa, atau bertemu setan?” Bekerja di kota, di mana banyak orang berkompetisi memperebutkan sedikit kesempatan, yang tak jarang hanya demi kesenangan dan memuaskan pancaindra semata, sampai-sampai harus sikut kanan-sikut kiri, bagi saya justru lebih menakutkan dibandingkan kemungkinan bertemu binatang buas di hutan. Tapi, kenyataann...

Karena Aku Percaya

Kamu tau nggak kenapa aku nggak pernah ngerasa sendiri dan kesepian meskipun suasana mendukung buat aku merasakan hal-hal demikian. Karena sama seperti kamu selayaknya manusia maka aku juga punya alasan. Jadi kurang lebih begini alasannya, karena aku percaya bahwa di ujung sana ada seseorang yang sedang dengan tulus menantiku, karena aku percaya bahwa ada doa orang tuaku yang selalu menemani setiap langkahku, karena aku percaya bahwa Tuhanku memahami apa yang aku rasakan, karena aku percaya bahwa, setiap aku kembali, akan ada tempat untuk berbagi, karena aku percaya bahwa kamu itu nyata.

Menjadi Bagian dari Malam

Menjadi bernama malam bukan sebuah pilihan,  bukan juga sebuah alasan. Mungkin ia merupakan peninggalan. Sungguh aku merasa menjadi bagian dari malam, tapi bukan kelam. Dalam malam sendiri kuakui, riuh ramai bising besi asing terasa begitu mencekam dari pada suara angin, binatang malam maupun suara-suara halus yang hanya mampu kau dengar ketika semua diam. Mungkin karena bagian malam-malamku yang panjang banyak ku habiskan di antara riuhnya keindahan alam, ahh memang gadis desa. Diantara segala malam, waktu tengah malam menuju pagi menjadi waktu yang paling aku nanti untuk sekedar merasa bahwa aku ada di antara sepinya waktu, merasa begitu damai dan nyata diantara mereka yang sedang sibuk dalam karya tak nyata. Mungkin aku hanya merindu malam yang benar-benar malam.

Dengan dan Tanpa Alasan

Bayangkan garis imajiner horisontal terbetang lurus di hadapanmu tanpa liuk dan tanpa batas. Aku berdiri diantara waktu kemarin dan yang akan datang, bukan di titik seharusnya waktu berjalan. Perlahan kebiasaan yang tak pernah aku lakukan datang menghampiri dari gambaran waktu yang tak kuinginkan, begitu merubah hidupku sebagai sebuah kebiasaan yang tak kunikmati. Tanpa bisa kembali dan seakan tetap tak sanggup untuk menikmati waktu, aku hanya ingin memberikan titik pada garisnya. Atau mungkin memotongnya dan melawatinya pada batas yang sudah aku usahakan selama ini. Cukup. Mungkin lebih baik begitu daripada di kendalikan oleh ketidak adilan antara keinginan dan bukan tujuan, impian seakan terbentang menjadi lebih jauh. Bukan tanpa alasan, menjadi terikat waktu yang di buat oleh diri sendiri dengan tanggung jawab penuh lebih memaknai garis horizontalku. Hanya saja segalanya menjadi lebih sulit dengan maupun tanpa pilhan, mungkin akan jadi jauh lebih adil jika aku simpan : )

Suarakan, Jangan Hanya Diam

Tidak pernah ada yang salah dengan sebuah kejujuran, meskipun ia tak tampak dan tersimpan jauh di dalam goa. Kejujuran tak selalu hadir di depan mata, kadang ia tertutupi selubung ke-tinggi-hati-an manusia. Kejujuran yang begitu cantik kadang tersimpan rapat dalam jurang yang begitu dalam, tak terlihat celahnya, terasa menakutkan dari sisi yang berbeda. Bagaimana jika kejujuran yang baik bagaikan keindahan dalam samudra yang kadang tak mampu untuk diselami seluruh jangkauan luasnya? Masihkah kita begitu sepi untuk menyuarakan bungkam kejujuran? Begitulah, seringkali sebuah kejujuran dan pengakuan tampak begitu menakutkan untuk disuarakan. Percayalah jika aku-kamu-kita disini untuk satu alasan, entah untuk alasan yang dapat disimpan maupun alasan yang dapat dibanggakan. Lalu bagaimana jika alasan tersebut adalah untuk mengungkapkan kejujuran yang sayangnya tak pernah berani untuk kita suarakan? Masihkah kita tetap bungkam? Yogyakarta, 26/08/15

Belilah, Meski Kau Tak Membutuhkan

Kawan, kapan terakhir kali kau pegang koran karena membutuhkan informasi yang ada di dalamnya? Kapan terakhir kali kau membeli koran karena peduli dengan sesama? Tak dipungkiri kecepatan dan kemudahan mengakses informasi yang ada dalam genggaman kadang membuat kita lupa pada sisi kemanusiaan. Siapa peduli dengan cara lama yang kini mulai ditinggalkan. Nyatanya setiap detik informasi yang kita inginkan bisa kita akses dengan mudahnya. Ingin kutanyakan, berapa persen dari kita yang peduli dengan membuka lembaran demi lembaran ? Bukankah kemudahan telah ada dalam genggaman? Kawan, ini bukan tentang lembaran demi lembaran koran maupun isi berita yang ada di dalamnya tapi tentang nurani kita yang bicara. Belilah meski kau tak membutuhkannya, nyatanya ia bukan pengemis jalanan. Masih mencari rejeki halal dan rela berpanas-panasan dibawah terik matahari dan asap jalanan, kemana nurani? Ia begitu kecil dan legam bahkan berdiripun tak mampu lagi ia lakukan, kemanakah hati? ...