Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2016

Dunia Anak

Akhir-akhir ini waktuku banyak di isi oleh senyum, tawa dan rengekan dari mereka. Lucu, satu kata yang sepertinya mampu medeskripsikan mereka. Sebelumnya, nggak pernah kepikiran untuk secepat ini duduk sama anak-anak untuk belajar bersama, tapi ternyata kesempatan berkata lain. Dari sini, saat duduk bersama mereka aku lebih banyak belajar tentang memahami dunia anak-anak. Tentang ketakutan dan ketertarikan terhadap hal baru yang ternyata bisa di atasi dengan kalimat menenangkan dari orang tua, teman dan mereka yang lebih dewasa. Baiklah, paragraf diatas hanya awalan pada isi judul yang akan diceritakan sebenarnya. Look and see my partner in the video. I don't need to tell you who he is yet he's famous enough in Yogyakarta. The point is, he has to go and leave the babies. Well, people come, grow and sometimes go. He is going to greet his better future. But do babies know that those are the last good bye for them? No, they don't. Actually I'm affected by how he...

Martinah dan Sukijo

Menjadi sebuah rahasia pribadi dalam seluk beluk ruang yang ku bangun sendiri, atas nama janji dan kesetiaan. Menjadi sebuah panji-panji suci untuk di ikrarkan suatu hari nanti. Menjadi tidak menjadi, tanpa paksaan. Martinah tahu bahwa memperhitungkan masa bersama Sukijo adalah keabadian yang ia aminkan sendiri. Tak ingin pergi kemana-mana tak ingin hilang lebih jauh lagi. Belanda memang tak tahu diri tapi waktu tak mampu secuilpun membuatku berhenti. Tak terima di tembak mati, Sukijo masih berusaha mencari-cari jejak diri. Sayang, tak ada yang peduli, tidak juga aku ataupun si Martinah.

Cinta Pertama

Cintamu sempurna. Bagikan embun yang menggelayut lembut pada rumput, memantulkan kilau pada semburat cerah di pagi merah. Seperti harta yang terkubur dalam lautan merah tak terjamah. Cintamu sempurna. Menggaung megah hingga purnama. Meredam angkasa. Papa, aku selalu yakin bahwa cintamu sempurna, tanpa cela. Pada setiap detik waktu yang bergulir aku percaya cintamu kan selalu ada. Pada setiap tetes darah yang mengalir, kasihmu selalu menyala dalam perlindungan berbalut doa, dalam rindu yang tak teraba. Entah mengapa, aku begitu kalut dan takut kehilangan kemegahan cintamu, Papa. Papa, bagaimana jika suatu saat nanti tak ada suara yang bertanya sedang apa? Tak ada dering yang menyapa. Bagaimana jika pesan cinta tak lagi bermedia? Papa, hingga pagi dan malam lagi aku ingin kembali selalu begitu hingga rasanya cukup diri ini untuk merasa berbakti.

Sederhana

Sederhana, yang sederhana cukup sikapnya saja. Yang sederhana cukup gaya hidupnya saja. Yang boleh sederhana kebahagiaannya saja. Tidak perlu diperpanjang - diperlebar yang akan menjadi meluaskan kesederhanaan. Yang secukupnya, sederhananya saja.