Petang hari tadi aku keluar dengan temanku Adelin Pricillia , kami makan berdua duduk berhadapan sambil mencari sinyal wifi. Aku memesan makanan yang biasa saja, yang penting sehat dan mengenyangkan. Selang beberapa menit, makanannya datang. Sayur, yang aku lupa namanya, sayang daun sayurnya tidak seberapa segar, mungkin sudah terlalu lama tersimpan di pendingin. Petang itu, aku sedang dalam keadaan ‘good mood’ sambil sedikit rindu rumah. Kuhabiskan makananku perlahan dan kemudian datang seorang remaja awal menghampiri. Sayangnya aku lupa menanyakan namanya, “Mbak mau beli kue?”. Sombong sekali aku menjawab seketika “nggak dek.” Lalu kulihat wajahnya, sontak aku ingat adik-adikku dirumah. Dia masih kecil, terlalu kecil untuk menjajakan kue tersebut. Kupanggil lagi ia “Kue apa? Berapaan dek? Buatannya siapa?” “Buatannya Ibuk mbak, ini cuma 150 ribu tiga toples.” Mampuslah, uang bulanan yang Mama kasih masih harus aku bagi-bagi lagi. “Maaf yaa dek, tapi kamu udah makan?” dia...