Langsung ke konten utama

Kue

Petang hari tadi aku keluar dengan temanku Adelin Pricillia, kami makan berdua duduk berhadapan sambil mencari sinyal wifi.

Aku memesan makanan yang biasa saja, yang penting sehat dan mengenyangkan. Selang beberapa menit, makanannya datang. Sayur, yang aku lupa namanya, sayang daun sayurnya tidak seberapa segar, mungkin sudah terlalu lama tersimpan di pendingin.

Petang itu, aku sedang dalam keadaan ‘good mood’ sambil sedikit rindu rumah. Kuhabiskan makananku perlahan dan kemudian datang seorang remaja awal menghampiri. Sayangnya aku lupa menanyakan namanya, “Mbak mau beli kue?”. Sombong sekali aku menjawab seketika “nggak dek.” Lalu kulihat wajahnya, sontak aku ingat adik-adikku dirumah. Dia masih kecil, terlalu kecil untuk menjajakan kue tersebut. Kupanggil lagi ia “Kue apa? Berapaan dek? Buatannya siapa?”

“Buatannya Ibuk mbak, ini cuma 150 ribu tiga toples.” Mampuslah, uang bulanan yang Mama kasih masih harus aku bagi-bagi lagi. “Maaf yaa dek, tapi kamu udah makan?” dia tak menjawab dan kembali berkeliling menjajakan kuenya.

Anak laki-laki berusia kurang lebih 12 tahun, perawakannya tinggi agak kurus dan berkulit sawo matang, membawa tas gendong, entah buku pelajaran entah kue, terasa cukup berat baginya. Karena berkali-kali ia harus membenarkan letak tas punggungnya. Kalau boleh, sini biar aku bawakan.

Ada gurat kecemasan dalam dirinya, terasa seperti, “Bu, kuenya belum laku.” Masih ia tenteng plastik yang tadi ia sodorkan. Sudah makan kah ia? Dalam hati bertanya-tanya. Dimana rumahnya? Ahh atau aku saja yang berlebihan sebenarnya.

Mama, anak itu membawaku pada memori saat aku juga harus membawa kue kesekolah untuk dititipkan, aku masih ingat “untuk latihan” kata Mama, “coba dijual”. “Ini Mama bawain kue, dititipin kantin ya”. Saat itu aku tidak mengerti apa-apa, yang kutau hidupku begitu menyenangkan, tanpa beban. Aku tak pernah berpikir macam-macam tapi sekarang aku tau, saat itu Mama sedang melatihku. Setiap pulang sekolah, aku tidak pernah lupa untuk mengambil baskom yang ku titipkan di kantin, kadang kuenya sisa kadang habis, tapi aku juga rajin beli kue yang Mama titipkan, aku hanya mau bawa pulang baskom kosong, tanpa sisa.

Samakah perasaan anak itu denganku dulu?

Memoriku masih terus berjalan, aku begitu paham rasanya ketika apa yang Mama titipkan tak berhasil kuhabiskan, aku begitu mengerti. Ingatan itu serasa masih baru, berputar dan terulang lagi. Saat itu aku seperti mendengar suara hatinya yang paling lembut meskipun ia tak bersuara, meskipun ia terus menjaja “ibu, kuenya belum laku”. Dek, jika tadi aku tak bisa membantumu, maka kali ini ijinkan aku membantumu dengan sepatah doa,


“Tuhan, ia berbeda. Tak ia gunakan gitar untuk menjual suaranya, tak ia gunakan kaleng bekas untuk menengadahkan tangannya. Ia gadaikan waktu mainnya, ia gadaikan tenaganya untuk menawarkan jerih payah ibunya. Tuhan, ia sungguh berbeda, bisa kulihat kedewasaan jenaka milik anak kecil yang belum seharusnya. Tuhan, muliakanlah ia pada masa depannya nanti.” :)


Yogyakarta, 00:01
17 May 2014 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Routine

Apakah rutinitas adalah hal yang patut untuk di kutuki dan dicaci-maki oleh banyak orang?  Beberapa orang menganggap bahwa rutinitas adalah hal yang membosankan, tidak seru. Iya, kurang lebih memang begitu. Mengerjakan hal yang sama berulang-ulang, tidak menantang. Tapi, apakah benar-benar begitu?  Bagi beberapa yang percaya bahwa, pada setiap hari yang baru akan ada perjalanan yang baru pula untuk dinikmati dan dihargai. Rutinitas bukanlah sebuah masalah. Bahkan setiap orang yang sama yang kita temui setiap hari, sebenarnya juga telah berubah. Suasana hatinya, pakaiannya, ekspresinya, tidak semuanya, beberapa saja, tapi bukankah perubahan juga merupakan suasana yang baru? Ya, meskipun perubahan tak dapat terlihat satu dua kali. Dalam bentuk grafis-pun perubahan sedikit demi sedikit tak akan terlihat. Setelah satu dua bulan - satu dua tahun barulah perubahan yang signifikan dapat dinilai.  Balik lagi ke 'routine'. Bagiku rutinitas juga merupakan sebuah pengua...

Berkunjung

Namanya juga berkunjung, hal yang kulakukan berkala, kala rindu dan kala ingin datang.  Tempat ini adalah salah satu tempat yang kita sepakati bersama selang beberapa hari kita berkenalan, ternyata kau juga suka menyepi disana dengan maupun tanpa kawan. Hey, aku juga suka, lalu kita sepakati jika kita akan sering-sering berkunjung kesana. Selang waktu berlalu dan seiring perubahan yang terjadi padanya, aku masih suka berkunjung kemari, dengan kawan maupun sendirian, sekedar melepas panat dan melihat keramaian. Aku masih suka kemari, bangku-bangku ini menjadi saksi pada sudut padang kenanganku dan kenanganmu. Aku masih ingat, di ujung sana pertama kalinya kita mencocokan karya yang paling kita suka, lalu di ujung sebelah sana dekat pintu keluar, adalah kenanganku sendiri akan sebuah pesan yang kau sematkan. Aku masih suka berkunjung kemari, sekedar menghirup aroma teh hijau atau memesan coklat panas. Sambil memeperhatikan orang-orang yang lalu lalang, ku abadikan send...

Cerita Perempuan 2

Mungkin nanti aku yang akan tersenyum sekaligus menangis melepaskan kepergianmu. Bukankah kehidupan memang begitu? 'people come and go in our life' tapi hanya akan ada beberapa yang membekas dan meninggalkan jejak berarti dalam hidupmu. Entah itu manis, pahit, bahagia, canda, tawa bahkan tangis. Mungkin nanti aku yang akan paling menunggu saat pintu kamarku terbuka lebar tapi kau tak datang untuk berbagi cerita, buku yang kau baca - buku yang kubaca. Lalu kita tertawa menertawakan kebodohan kita atas 'judging people by appearance' padahal kita saling tau jika, kita pun tak sempurna. Diskusi dari buku sampai ke batu kita bahas sampai habis. Kita pikir tak ada orang sehina ini diluar sana untuk menertawakan kebodohan kita sendiri. Menertawan mimpi kita untuk terwujud - tidak terwujud. Menyalahkan diri sendiri jika kita tak bergerak untuk melakukan sesuatu. Mungkin nanti tak akan ada bunga yang bisa aku pinjam lagi, tak ada lukisan yang akan ku cerca lagi, tak ada...