Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2015

Karena Aku Percaya

Kamu tau nggak kenapa aku nggak pernah ngerasa sendiri dan kesepian meskipun suasana mendukung buat aku merasakan hal-hal demikian. Karena sama seperti kamu selayaknya manusia maka aku juga punya alasan. Jadi kurang lebih begini alasannya, karena aku percaya bahwa di ujung sana ada seseorang yang sedang dengan tulus menantiku, karena aku percaya bahwa ada doa orang tuaku yang selalu menemani setiap langkahku, karena aku percaya bahwa Tuhanku memahami apa yang aku rasakan, karena aku percaya bahwa, setiap aku kembali, akan ada tempat untuk berbagi, karena aku percaya bahwa kamu itu nyata.

Menjadi Bagian dari Malam

Menjadi bernama malam bukan sebuah pilihan,  bukan juga sebuah alasan. Mungkin ia merupakan peninggalan. Sungguh aku merasa menjadi bagian dari malam, tapi bukan kelam. Dalam malam sendiri kuakui, riuh ramai bising besi asing terasa begitu mencekam dari pada suara angin, binatang malam maupun suara-suara halus yang hanya mampu kau dengar ketika semua diam. Mungkin karena bagian malam-malamku yang panjang banyak ku habiskan di antara riuhnya keindahan alam, ahh memang gadis desa. Diantara segala malam, waktu tengah malam menuju pagi menjadi waktu yang paling aku nanti untuk sekedar merasa bahwa aku ada di antara sepinya waktu, merasa begitu damai dan nyata diantara mereka yang sedang sibuk dalam karya tak nyata. Mungkin aku hanya merindu malam yang benar-benar malam.

Dengan dan Tanpa Alasan

Bayangkan garis imajiner horisontal terbetang lurus di hadapanmu tanpa liuk dan tanpa batas. Aku berdiri diantara waktu kemarin dan yang akan datang, bukan di titik seharusnya waktu berjalan. Perlahan kebiasaan yang tak pernah aku lakukan datang menghampiri dari gambaran waktu yang tak kuinginkan, begitu merubah hidupku sebagai sebuah kebiasaan yang tak kunikmati. Tanpa bisa kembali dan seakan tetap tak sanggup untuk menikmati waktu, aku hanya ingin memberikan titik pada garisnya. Atau mungkin memotongnya dan melawatinya pada batas yang sudah aku usahakan selama ini. Cukup. Mungkin lebih baik begitu daripada di kendalikan oleh ketidak adilan antara keinginan dan bukan tujuan, impian seakan terbentang menjadi lebih jauh. Bukan tanpa alasan, menjadi terikat waktu yang di buat oleh diri sendiri dengan tanggung jawab penuh lebih memaknai garis horizontalku. Hanya saja segalanya menjadi lebih sulit dengan maupun tanpa pilhan, mungkin akan jadi jauh lebih adil jika aku simpan : )