Bayangkan garis imajiner horisontal terbetang lurus di hadapanmu tanpa liuk dan tanpa batas. Aku berdiri diantara waktu kemarin dan yang akan datang, bukan di titik seharusnya waktu berjalan. Perlahan kebiasaan yang tak pernah aku lakukan datang menghampiri dari gambaran waktu yang tak kuinginkan, begitu merubah hidupku sebagai sebuah kebiasaan yang tak kunikmati.
Tanpa bisa kembali dan seakan tetap tak sanggup untuk menikmati waktu, aku hanya ingin memberikan titik pada garisnya. Atau mungkin memotongnya dan melawatinya pada batas yang sudah aku usahakan selama ini. Cukup. Mungkin lebih baik begitu daripada di kendalikan oleh ketidak adilan antara keinginan dan bukan tujuan, impian seakan terbentang menjadi lebih jauh.
Bukan tanpa alasan, menjadi terikat waktu yang di buat oleh diri sendiri dengan tanggung jawab penuh lebih memaknai garis horizontalku. Hanya saja segalanya menjadi lebih sulit dengan maupun tanpa pilhan, mungkin akan jadi jauh lebih adil jika aku simpan : )
Tanpa bisa kembali dan seakan tetap tak sanggup untuk menikmati waktu, aku hanya ingin memberikan titik pada garisnya. Atau mungkin memotongnya dan melawatinya pada batas yang sudah aku usahakan selama ini. Cukup. Mungkin lebih baik begitu daripada di kendalikan oleh ketidak adilan antara keinginan dan bukan tujuan, impian seakan terbentang menjadi lebih jauh.
Bukan tanpa alasan, menjadi terikat waktu yang di buat oleh diri sendiri dengan tanggung jawab penuh lebih memaknai garis horizontalku. Hanya saja segalanya menjadi lebih sulit dengan maupun tanpa pilhan, mungkin akan jadi jauh lebih adil jika aku simpan : )
Komentar
Posting Komentar