Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Sepotong Red Velvet

Hidupku terkadang juga secangkir teh panas yang kau seduh di kala senja tiba, hidupku terkadang adalah sepotong red velvet yang kau nikmati sambil berbagi cerita. Hidupku, terkadang juga menjadi sepotong lirik dalam sebuah lagu yang berputar-putar dalam kepalamu. Terkadang, hidupku juga adalah sepenggal dari naskah yang kau baca-baca hingga diluar kepala. Kadang kala menjadi seperti surga juga neraka tapi lebih sering tidak kedua-duanya. Hidupku juga terkadang menjadi bagian yang terbuka, sama seperti halaman 47 yang sedang kau coba baca namun tak mampu memaknai detail setiap kata-katanya. Hidupku juga, kadang sepotong senja yang sering dinanti-nantikan jingganya lalu terlupakan, seperti kau pernah mengingat jingga yang lalu. Berhenti dulu, nikmati saja sepotong kue yang sedang ku suguhkan, boleh kau mulai dari pinggir sampai tengahnya, jangan lupa coklat dan kejunya kau habiskan. Hidupku juga, untuk melengkapi red velvetmu di sore ini.

Berkunjung

Namanya juga berkunjung, hal yang kulakukan berkala, kala rindu dan kala ingin datang.  Tempat ini adalah salah satu tempat yang kita sepakati bersama selang beberapa hari kita berkenalan, ternyata kau juga suka menyepi disana dengan maupun tanpa kawan. Hey, aku juga suka, lalu kita sepakati jika kita akan sering-sering berkunjung kesana. Selang waktu berlalu dan seiring perubahan yang terjadi padanya, aku masih suka berkunjung kemari, dengan kawan maupun sendirian, sekedar melepas panat dan melihat keramaian. Aku masih suka kemari, bangku-bangku ini menjadi saksi pada sudut padang kenanganku dan kenanganmu. Aku masih ingat, di ujung sana pertama kalinya kita mencocokan karya yang paling kita suka, lalu di ujung sebelah sana dekat pintu keluar, adalah kenanganku sendiri akan sebuah pesan yang kau sematkan. Aku masih suka berkunjung kemari, sekedar menghirup aroma teh hijau atau memesan coklat panas. Sambil memeperhatikan orang-orang yang lalu lalang, ku abadikan send...

Sepotong Perjalanan Pagi

Setelah selesai kusesap tetes terakhir teh manis pada cangkirku, segera ku panasi kendaraan kesayanganku. Pagi masih buta, sinar matahari belum juga tinggi, kecuali nanti, aku akan bermandikan cahaya pagi. Saat-saat seperti ini, saat ketika ku nikmati hijaunya pepohonan, birunya awan dan kuningnya matahari, dalam hati berbisik. "Cantik sekali pagi ini, senang jika kau juga melihatnya, lalu kita akan menikmatinya bersama." Ku lanjutkan ceritaku sendiri dalam benakku, lalu kita berdebat kecil mengenai apa yang ingin kita nikmati pagi ini, sekedar jajanan pasar, bubur ayam atau yang lainnya. Memang pagi, alam yang selalu akan siap untuk memanggil kita untuk berusaha lagi.