Langsung ke konten utama

Cerita Perempuan

Jadi malam ini kita sama-sama setuju bahwa suasana Yogyakarta begitu syahdu, sepertinya kita juga saling mendukung jika setiap malam seharusnya menjadi seperti malam ini. Ketika lampu-lampu jalan sekitar Gajah Mada menjadi tamaram, tidak menyilaukan dan kendaraan tidak begitu banyak melintas. Lalu kita setuju jika lampu yang begitu terang di jalan ditambah baleho besar papan iklan mampu membuat pikiran kita lupa bahwa ini malam yang seharusnya kita nikmati sebagai istirahat yang menenangkan.

Perjalanan kami lanjutkan, dengan keadaan yang memaksa kami sebagai mahasiswi yang merasa memiliki argumentasi kami saling berbagi cerita dan pengalaman juga sudut pandang. Dari mulai pendidikan, kehidupan hingga pelajaran dengan tema 'cara menjadi ibu yang baik' nanti.

Bagi kami argumentasi diatas euforia malam menjadi bahan pembicaraan yang menarik. Argumentasi diatas jumawa diri, tak ingin didengar dengan pasti namun kami ingin memberi arti bahwa yang sedang kami bicarakan begitu berisi namun juga begitu tak berarti.

"Berapa persen penduduk Indonesia yang peduli dengan masalah pendidikan ini?"
"Bukankah Arab dulu yang memiliki sistem berguru?"
"Ohh.. pendidikan itu adaptasi Eropa yang masuk ke Indonesia."
"Sudah di bangun universitas di Eropa sejak 1200an"
"Bagaimana? Jadi pendidikan seksual penting kan buat anak-anak?"
"LSM yang juga harus bergerak, bagaimana jika mereka tak tersentuh pendidikan formal?"
"Bayangkan anak kelas 2 SMP dengan dua anak bayi di tangannya setelah memulung."
"Lho? Dia smart tapi memaksakan kehendak pada anaknya untuk menjadi lebih mampu daripada yang ia bisa."
"Mungkin harus pakai ilmu ke-ibu-an ketika mendidik anak, bukan hanya ilmu kedokteran."
"Ada satu yang mungkin lupa diajarkan pada mereka yang begitu eksak, humanis."

Pada setiap kalimat yang terlontar adalah bahasa sederhana kami untuk menikmati hari, untuk percaya bahwa masih akan ada harapan untuk kami di esok hari. Entah dengan apa dan bagaimana caranya kami ingin sedikit memberi arti dalam berbagi, meski mungkin hanya terbatas pada kami saat ini, semoga suatu hari nanti pembicaraan kami menjadi lebih baik dari diskusi entah kami yang seperti ini.

Aku harap kita tak akan pernah berhenti disini hanya untuk mendiskusikan cerita receh kita diatas meja makan, di depan teras tinggal dan dihadapan tukang sayuran.


20.12.2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Routine

Apakah rutinitas adalah hal yang patut untuk di kutuki dan dicaci-maki oleh banyak orang?  Beberapa orang menganggap bahwa rutinitas adalah hal yang membosankan, tidak seru. Iya, kurang lebih memang begitu. Mengerjakan hal yang sama berulang-ulang, tidak menantang. Tapi, apakah benar-benar begitu?  Bagi beberapa yang percaya bahwa, pada setiap hari yang baru akan ada perjalanan yang baru pula untuk dinikmati dan dihargai. Rutinitas bukanlah sebuah masalah. Bahkan setiap orang yang sama yang kita temui setiap hari, sebenarnya juga telah berubah. Suasana hatinya, pakaiannya, ekspresinya, tidak semuanya, beberapa saja, tapi bukankah perubahan juga merupakan suasana yang baru? Ya, meskipun perubahan tak dapat terlihat satu dua kali. Dalam bentuk grafis-pun perubahan sedikit demi sedikit tak akan terlihat. Setelah satu dua bulan - satu dua tahun barulah perubahan yang signifikan dapat dinilai.  Balik lagi ke 'routine'. Bagiku rutinitas juga merupakan sebuah pengua...

Berkunjung

Namanya juga berkunjung, hal yang kulakukan berkala, kala rindu dan kala ingin datang.  Tempat ini adalah salah satu tempat yang kita sepakati bersama selang beberapa hari kita berkenalan, ternyata kau juga suka menyepi disana dengan maupun tanpa kawan. Hey, aku juga suka, lalu kita sepakati jika kita akan sering-sering berkunjung kesana. Selang waktu berlalu dan seiring perubahan yang terjadi padanya, aku masih suka berkunjung kemari, dengan kawan maupun sendirian, sekedar melepas panat dan melihat keramaian. Aku masih suka kemari, bangku-bangku ini menjadi saksi pada sudut padang kenanganku dan kenanganmu. Aku masih ingat, di ujung sana pertama kalinya kita mencocokan karya yang paling kita suka, lalu di ujung sebelah sana dekat pintu keluar, adalah kenanganku sendiri akan sebuah pesan yang kau sematkan. Aku masih suka berkunjung kemari, sekedar menghirup aroma teh hijau atau memesan coklat panas. Sambil memeperhatikan orang-orang yang lalu lalang, ku abadikan send...

Cerita Perempuan 2

Mungkin nanti aku yang akan tersenyum sekaligus menangis melepaskan kepergianmu. Bukankah kehidupan memang begitu? 'people come and go in our life' tapi hanya akan ada beberapa yang membekas dan meninggalkan jejak berarti dalam hidupmu. Entah itu manis, pahit, bahagia, canda, tawa bahkan tangis. Mungkin nanti aku yang akan paling menunggu saat pintu kamarku terbuka lebar tapi kau tak datang untuk berbagi cerita, buku yang kau baca - buku yang kubaca. Lalu kita tertawa menertawakan kebodohan kita atas 'judging people by appearance' padahal kita saling tau jika, kita pun tak sempurna. Diskusi dari buku sampai ke batu kita bahas sampai habis. Kita pikir tak ada orang sehina ini diluar sana untuk menertawakan kebodohan kita sendiri. Menertawan mimpi kita untuk terwujud - tidak terwujud. Menyalahkan diri sendiri jika kita tak bergerak untuk melakukan sesuatu. Mungkin nanti tak akan ada bunga yang bisa aku pinjam lagi, tak ada lukisan yang akan ku cerca lagi, tak ada...