Saat ku pandangi dinding-dinding beku pucat pasi, penuh ia dengan pantulan diriku sendiri. Besar-kecil tinggi-rendahnya beraturan, tersudut dan terkotak-kotakkan.
Bahkan ia terlalu banyak melukai, seolah memantulkan keegoisan sendiri, berbagi ruang tanpa spasi.
Seolah aku begitu memuja kemarin, kebekuan yang tercetak dalam dua dimensi, beryawa hanya jika aku mengingatnya.
Rasanya ingin menambah satu lagi sebagai penawar basi. Satu dalam rupa yang lain yang membuatnya seimbang pemecah kebekuan.
Bahkan ia terlalu banyak melukai, seolah memantulkan keegoisan sendiri, berbagi ruang tanpa spasi.
Seolah aku begitu memuja kemarin, kebekuan yang tercetak dalam dua dimensi, beryawa hanya jika aku mengingatnya.
Rasanya ingin menambah satu lagi sebagai penawar basi. Satu dalam rupa yang lain yang membuatnya seimbang pemecah kebekuan.
Komentar
Posting Komentar