Langsung ke konten utama

Illiterate (Pesan dari Ibu Widyastuti)

"Apa yang akan anda lakukan, sebagai calon guru dimasa depan, jika murid-murid anda terbiasa menggunakan gadget dalam hal apapun?"

Kurang lebih ini pertanyaan yang ditanyakan Ibu Widyastuti pagi tadi. Beliau memaparkan bahwa, saat ini generasi Indonesia berada dalam kondisi illiterate dan merupakan tugas calon seorang guru untuk membuat murid-muridnya mau membaca. Sikap mau membaca ini sebaiknya ditanamkan sejak kecil, dan dimulai juga dari gurunya. If you're the future teacher and you're not knowledgeable , what will happen on the future generation?

The statement, off course, make me think a lot. ^o^

Literacy (n) : (1) the ability to read and write, (2) knowledge of a particular subject, or a particular type of knowledge. - Cambridge Advanced Learner's Dictionary.

Literacy atau dalam bahasa Indonesia dapat kita artikan sebagai 'melek huruf' (lawan dari buta huruf apa yaa?) ^^ Apa arti literacy sendiri secara harfiah? Kurang lebih artinya adalah, memahami suatu hal secara mendalam-tidak hanya dalam membaca namun juga dalam belajar memahami kondisi, perkataan dan perbuatan apapun.

Okay, kembali lagi ke pertanyaan awal. Saya sendiri sebagai murid (saat ini) sangat menikmati adanya sophisticated gadget. Karena banyak hal yang bisa saya dapatkan melalui internet. Namun, apa yang akan terjadi jika, illiterate people use the gadget everytime?

Ibu Widyastuti mengatakan, dalam literature pasti ada poison dan ada honey. Bisa juga ada honey dalam poison. Orang yang terbiasa membaca akan mudah memahami mana yang poison dan mana yang honey. Dalam dunia maya di Indonesia, filter informasi dalam dunia pendidikan hampir tidak ada. Murid-murid akan lebih senang mencari informasi melalui internet daripada membaca. Bisa jadi, gadget murid akan menjadi musuh bagi guru. Selain itu, Indonesia sendiri tidak terlalu banyak memfilter jejaring sosial, sehingga anak-anak Indonesia di manjakan oleh berbagai permainan. Apakah anda sebagai calon guru masa depan, tidak akan memperbolehkan murid-murid anda untuk menggunakan gadget, apa pendapat anda? :)



Sebagai guru yang baik, anda tidak seharusnya melarang murid-murid anda untuk membawa / menggunakan gadget. Hanya saja, informasi dan cara penggunaannya harus diarahkan. Sebagai guru, anda harus lebih attractive daripada gadget yang murid anda pegang. ^^

"Kalian harus mengajari mereka untuk menyeleksi apa yang seharusnya mereka lihat dan apa yang tidak. Jika kalian tidak memperbolehkan mereka menggunakannya, maka mereka akan curi-curi. Lihatlah dari prespektif yang lain, dan ajaklah murid untuk bisa membangun screen dalam pikirannya, mengenai mana yang baik dan mana yang buruk."

"Jika kita ingin memerangi sesuatu namun tidak tau cara medan perangnya, maka kita bisa apa?"


"Maka, biarlah mereka belajar menggunkannya dengan baik. Ajarkan murid anda nantinya sebagai literate generation agar tidak mudah tertipu." ^^

Komentar

  1. Guru yang baik adalah guru yg merepotkan.hehe. (serius iki). Guru-guru di Indonesia itu kurang merepotkan yak. Akibatnya kemauan membaca disini sangat kurang. Bayangkan, rata2 murid Finlandia membaca 1800 halaman buku perbulan. Sedangkan Indonesia? Hanya 27 halaman/tahun. Iya, per tahun..

    Nek bocah kurang moco yo mending gadgetan wae, wong selo...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, td mau disertakan data tp apa daya, mata sdh tidak kuat. Ya, benar guru yg baik adl guru yg bs membuat muridnya mau membaca :)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Routine

Apakah rutinitas adalah hal yang patut untuk di kutuki dan dicaci-maki oleh banyak orang?  Beberapa orang menganggap bahwa rutinitas adalah hal yang membosankan, tidak seru. Iya, kurang lebih memang begitu. Mengerjakan hal yang sama berulang-ulang, tidak menantang. Tapi, apakah benar-benar begitu?  Bagi beberapa yang percaya bahwa, pada setiap hari yang baru akan ada perjalanan yang baru pula untuk dinikmati dan dihargai. Rutinitas bukanlah sebuah masalah. Bahkan setiap orang yang sama yang kita temui setiap hari, sebenarnya juga telah berubah. Suasana hatinya, pakaiannya, ekspresinya, tidak semuanya, beberapa saja, tapi bukankah perubahan juga merupakan suasana yang baru? Ya, meskipun perubahan tak dapat terlihat satu dua kali. Dalam bentuk grafis-pun perubahan sedikit demi sedikit tak akan terlihat. Setelah satu dua bulan - satu dua tahun barulah perubahan yang signifikan dapat dinilai.  Balik lagi ke 'routine'. Bagiku rutinitas juga merupakan sebuah pengua...

Berkunjung

Namanya juga berkunjung, hal yang kulakukan berkala, kala rindu dan kala ingin datang.  Tempat ini adalah salah satu tempat yang kita sepakati bersama selang beberapa hari kita berkenalan, ternyata kau juga suka menyepi disana dengan maupun tanpa kawan. Hey, aku juga suka, lalu kita sepakati jika kita akan sering-sering berkunjung kesana. Selang waktu berlalu dan seiring perubahan yang terjadi padanya, aku masih suka berkunjung kemari, dengan kawan maupun sendirian, sekedar melepas panat dan melihat keramaian. Aku masih suka kemari, bangku-bangku ini menjadi saksi pada sudut padang kenanganku dan kenanganmu. Aku masih ingat, di ujung sana pertama kalinya kita mencocokan karya yang paling kita suka, lalu di ujung sebelah sana dekat pintu keluar, adalah kenanganku sendiri akan sebuah pesan yang kau sematkan. Aku masih suka berkunjung kemari, sekedar menghirup aroma teh hijau atau memesan coklat panas. Sambil memeperhatikan orang-orang yang lalu lalang, ku abadikan send...

Cerita Perempuan 2

Mungkin nanti aku yang akan tersenyum sekaligus menangis melepaskan kepergianmu. Bukankah kehidupan memang begitu? 'people come and go in our life' tapi hanya akan ada beberapa yang membekas dan meninggalkan jejak berarti dalam hidupmu. Entah itu manis, pahit, bahagia, canda, tawa bahkan tangis. Mungkin nanti aku yang akan paling menunggu saat pintu kamarku terbuka lebar tapi kau tak datang untuk berbagi cerita, buku yang kau baca - buku yang kubaca. Lalu kita tertawa menertawakan kebodohan kita atas 'judging people by appearance' padahal kita saling tau jika, kita pun tak sempurna. Diskusi dari buku sampai ke batu kita bahas sampai habis. Kita pikir tak ada orang sehina ini diluar sana untuk menertawakan kebodohan kita sendiri. Menertawan mimpi kita untuk terwujud - tidak terwujud. Menyalahkan diri sendiri jika kita tak bergerak untuk melakukan sesuatu. Mungkin nanti tak akan ada bunga yang bisa aku pinjam lagi, tak ada lukisan yang akan ku cerca lagi, tak ada...