Apa masalah hati harus menggunakan logika pilih memilih?
Berkali-kali nasehat sampai ke telinga, mungkin ia tak masuk sampai hati dan logika.
"Dari semua ceritamu yang bisa aku simpulkan, sudah, kamu diam saja dulu. Begitu saja, tak usah memulai dan mengakhiri apapun sampai nanti yang kau tunggu datang memintamu dengan penuh kesungguhan," aku lanjutkan "kenapa dia? bukan dia?"
Memangnya kau bisa mengatur hatimu seenak kau memilih baju?
Baju? Pakaian?
Kau lupakah, bahwa pasanganmu adalah pakain bagimu, yang harus mampu menutupi semua kekuranganmu, membuatmu terlihat lebih baik di hadapan orang lain.
Begitu?
Lupakah kau pada nasehat, bukan sejak tanggung jawab telah dilimpahkan, lalu kau ingin memiliki penerus yang shalih-shalihat, namun sejak memilih malaikatnya lah segala takdir akan di tentukan.
Jadi bagaimana?
Kenapa bukan dia?
Masih saja kau tanyakan tentang dia yang aku sendiri bahkan tak pernah tau namanya dengan pasti.
Jadi bagaimana?
Entahlah, aku bukan cenayang. Tentu saja aku tak punya jawaban,
Sesungguhnya kau punya jawaban.
Begitu? Harus ku pakai logika dan hati lagi? Atau logika saja? Atau hati saja?
Cukup, kau tanyakan saja pada penasehatmu. Tapi telingamu juga sudah bebal sepertinya.
Lalu bagaimana?
Kau yang bagaimana?
Apa?
Berkali-kali nasehat sampai ke telinga, mungkin ia tak masuk sampai hati dan logika.
"Dari semua ceritamu yang bisa aku simpulkan, sudah, kamu diam saja dulu. Begitu saja, tak usah memulai dan mengakhiri apapun sampai nanti yang kau tunggu datang memintamu dengan penuh kesungguhan," aku lanjutkan "kenapa dia? bukan dia?"
Memangnya kau bisa mengatur hatimu seenak kau memilih baju?
Baju? Pakaian?
Kau lupakah, bahwa pasanganmu adalah pakain bagimu, yang harus mampu menutupi semua kekuranganmu, membuatmu terlihat lebih baik di hadapan orang lain.
Begitu?
Lupakah kau pada nasehat, bukan sejak tanggung jawab telah dilimpahkan, lalu kau ingin memiliki penerus yang shalih-shalihat, namun sejak memilih malaikatnya lah segala takdir akan di tentukan.
Jadi bagaimana?
Kenapa bukan dia?
Masih saja kau tanyakan tentang dia yang aku sendiri bahkan tak pernah tau namanya dengan pasti.
Jadi bagaimana?
Entahlah, aku bukan cenayang. Tentu saja aku tak punya jawaban,
Sesungguhnya kau punya jawaban.
Begitu? Harus ku pakai logika dan hati lagi? Atau logika saja? Atau hati saja?
Cukup, kau tanyakan saja pada penasehatmu. Tapi telingamu juga sudah bebal sepertinya.
Lalu bagaimana?
Kau yang bagaimana?
Apa?

Komentar
Posting Komentar