Nama : Mutiara
Panggilan : LIA
Salah satu hobi : duduk didepan
Duduk di depan? Serius?
Iya duduk didepan, terutama waktu pelajaran berlangsung. Mungkin terlihat sedikit terobsesi dengan bangku di depan yaa. ^^
Hobi duduk di depan bermula ketika Mamma pernah berpesan "Kalau lagi pelajaran, duduknya didepan ya Lia, perhatikan gurunya."
Sepertinya Mamma tau persis kalau anaknya gampang banget teralihkan perhatiannya, dan postur badan yang imut ini suka gak lihat apa-apa kalau duduk dibelakang ^^v
Sejak saat itu, aku lebih memilih dan lebih suka duduk didepan, kenapa?
Ya, karena ingin memperhatikan 'pembicara'nya secara lebih jelas :)
Sekarang kalau dosennya killer masih suka duduk didepan?
Untuk cari aman, milih yang tengah aja deh.. (duuuh -____- )
Ini sedikit pengecualian ya, boleh kan? ^^
Tapi ada yang lebih penting dari sekedar duduk depan dijaman sekarang.
Kalian tau nggak kalau di Manado tahun 1901 anak-anak yang bersekolah dan mau duduk saja mereka dibeda-bedakan menurut* :
a. Anak-anaknya kepala distrik I
b. Anak-anaknya kepala distrik II
c. Anak-anaknya bekas kepala distrik
d. Anak-anaknya dokter jawa dan guru
e. Anak-anaknya mantri cacar, penolong Injil, guru-guru bantu, dan pejawat lainnya
f. Anak-anaknya kepala negeri (Hukum Tua)
g. Cucu yang kesatu kepala distrik
h. Anak-anak orang berbangsa yang lain dan anak-anak orang kaya.
Terus kalau anak yang suka duduk didepan kaya gini, mau dataruh mana dong?
Jangankan duduk didepan, mungkin kalau aku hidup dijaman itu, sekolahpun susah yaa..
Jadi, bersyukur deh di jaman sekarang, mau duduk dimana aja boleh tanpa perlu ada diskriminasi tempat duduk.
Yaudah yuk kalau gitu jangan sia-siain bangku kosong yang ada di depan, sebelum duduk didepan dilarang ^^
*Menadonesche School, Taman Pengajaran (Yogyakarta) dalam Panggil Aku Kartini Saja - Pramoedya Ananta Toer
Komentar
Posting Komentar